Berita

STANDAR PEMUPUKAN

TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK

Penggunaan pupuk di dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggunaan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan hal tersebut makin kuat alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk mineral dan agar pembuatan pabrik-pabrik pupuk di dunia dikurangi atau dihentikan sama sekali agar manusia bisa terhindar dari malapetaka polusi. Upaya pembudidayaan tanaman dengan pertanian organik merupakan usaha untuk dapat mendapatkan bahan makanan tanpa penggunaan pupuk kimia. Dengan sitem ini diharapkan tanaman dapat hidup tanpa ada masukan dari luar sehingga dalam kehidupan tanaman terdapat suatu siklus hidup yang tertutup.  Selain masalah pengerasan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, masalah lain yang patut diperhatikan di Indonesia adalah adanya indikasi proses pemiskinan atau pengurangan kandungan 10 jenis unsur hara meliputi sebagian unsur hara makro yaitu Ca, S dan Mg (3 unsur) serta unsur hara mikro Yaitu Fe, Na, Zn, Cu, Mn, B dan Cl (7 jenis unsur). Dari sektor pemupukan dampak dari penggunaan pupuk kimiawi disertai paket-paket lainnya yang dikenal dengan nama panca usaha tani menghasilkan peningkatan produktivitas tanaman yang cukup tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya, hingga Indonesia mencapai swasembada Pangan tahun 1986 dan mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia di PBB (FAO). Namun peralihan budaya bertani yaitu  dari penggunaan pupuk organik (kandang, kompos, tanaman golongan leguminoceae) ke pupuk anorganik (kimia) dalam jangka yang cukup panjang hingga saat ini telah menimbulkan dampak buruk yaitu menjadikan tanah-tanah pertanian Indonesia semakin keras sehingga menurunkan produktivitasnya.

Kerasnya tanah ini bukan disebabkan oleh hilangnya tanah lapisan atas (top soil) tetapi  disebabkan residu pupuk kimia dalam tanah yang berakibat tanah sulit terurai. Hal ini disebabkan karena salah satu sifat bahan kimia adalah sulit terurai atau hancur dibandingkan dengan bahan organik. Jika tanah menjadi semakin keras, maka akan mengakibatkan tanaman akan semakin sulit menyerap unsur hara tanah. Jika tanah semakin keras, untuk mendapatkan hasil yang sama dengan hasil panen sebelumnya diperlukan dosis pupuk lebih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa dosis pupuk semakin lama semakin tinggi. Selain itu dengan semakin kerasnya tanah, proses penyebaran perakaran dan aerasi (pernafasan) akar terganggu yang berakibat akar tidak dapat berfungsi optimal dan pada gilirannya menurunkan kemampuan produksi tanaman tersebut.

Sebagai contoh adalah jika dulu padi hanya diambil (dipanen) keluar areal penanaman dalam bentuk gabah saja, sekarang masih ditambah dengan batang padi (bhs.Jawa :”Damen”) untuk budidaya jamur merang. Tanaman jagung selain jagungnya, daun-daun dan batang mudanya juga di bawa keluar areal untuk pakan ternak. Tanah kehilangan 13 unsur hara esensial dari areal pertanaman semakin banyak. Sementara sebagian besar petani mengembalikan dalam bentuk pupuk hanya terbatas pada 3 jenis unsur saja (N, P dan K). 10 unsur sisanya seharusnya juga memberi pupuk kandang atau kompos dalam jumlah yang mencukupi. Namun hal ini tidak atau jarang terjadi karena sepeti telah diuraikan di atas yaitu telah terjadi pengurangan pemakaian pupuk kandang atau kompos di tingkat petani karena telah beralih ke pupuk kimia. Jika hal ini berlangsung terus dalam jangka waktu yang lama (Sejak tahun 1969 hingga sekarang) dapat dimengerti jika tanah-tanah di Indonesia kekurangan 10 jenis unsur hara esensial seperti tersebut di atas.  untuk itu, saat ini telah diluncurkan teknologi pertanian Organik Teknologi ini lebih berbasis pada “keinginan” petani di Indonesia yang secara umum menginginkan teknologi pertanian yang mudah diaplikasikan sesuai dengan kebiasaan mereka. Jadi keberhasilan teknologi ini telah teruji tidak hanya pada skala laboratorium ataupun demplot intensif, tetapi pada aplikasi langsung oleh petani.

INDUSTRI BIOSUPLEMEN PROBIOTIK TINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERNAK

Kendala yang banyak dialami peternak ternak lokal adalah rendahnya tingkat pertambahan bobot badan, tingkat pertumbuhan ternak, dan panjangnya jarak beranak ternak. Ketiga faktor tersebut dipengaruhi oleh efisiensi konversi pakan untuk tumbuh dan berkembang biak. Kendala tersebut sekarang dapat diatasi dengan mengintroduksikan suatu Bio suplemen Pro biotik ke dalam pakan konsentrat. Pro biotik adalah mikroba hidup dalam media pembawa yang menguntungkan ternak karena menciapatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciapatkan kondisi optimum untuk pencernaan pakan dan meningkatkan efisiensi konversi pakan sehingga memudahkan proses penyerapan zat nutrisi ternak, meningkatkan kesehatan ternak, mempercepat pertumbuhan, memperpendek jarak beranak, menurunkan kematian pedet, dan memproteksi dari penyakit patogen tertentu sehingga meningkatkan produksi susu atau daging. Hasil kajian yang dilakukan pada ternak mampu menaikkan produksi susu 15-20 % dan produksi daging 20 %, dan menekan biaya produksi. Pengujian bio suplemen pro biotik terhadap ternak potong di Jawa Barat memberikan kenaikan produksi daging mencapai 0,43 Kg per ekor per hari pada ternak Brahman Cross. Sedangkan pada ternak perah memberikan kenaikan produksi susu mencapai 15 % dari produksi normal per ekor per hari pada ternak FH. Pengujian bio suplemen pro biotik kombinasi dengan Bio plus terhadap ternak potong di Jawa Barat memberikan kenaikan calving rate 50 % yaitu dari rata-rata 1,5 menjadi 1 per ekor per tahun atau dari rata-rata 2 ekor anakan dalam 3 tahun menjadi 3 ekor anakan dalam 3 tahun pada ternak jenis Peranakan Ongol. Pro biotik

Pengujian menunjukkan respon positif terhadap pertumbuhan ternak ternak. Dosis untuk ternak perah : 1,5 ~ 2,5 kg per ton pakan konsentrat, sedangkan ternak potong : 2 ~ 3 kg per ton pakan konsentrat. Pro biotik mengontrol bakteri dalam saluran pencernaan sehingga mikro flora saluran pencernaan menjadi seimbang, merangsang produksi enzim yang diperlukan untuk pencernaan pakan ternak sehingga memudahkan proses penyerapan zat nutrisi, merangsang peningkatan nafsu makan ternak sehingga dapat meningkatkan kesehatan ternak dan produksi susu ataupun daging.

Melalui beberapa metoda pendekatan dapat diproyeksikan kebutuhan pasar potensial probiotik di Indonesia. Kebutuhan daging ternak nasional rata-rata/tahun mencapai 350 ribu ton, sedangkan produksi daging ternak nasional baru mencapai 34 ribu ton (± 10 %) yang dipenuhi dari peternakan rakyat (ternak lokal). Kekurangan produksi daging nasional sekitar 90 % dipenuhi dari peternakan perusahaan (feedlotter) yang menggunakan ternak bakalan impor yang rata-rata/tahun mencapai 350 ribu ekor (ditjennak, 1999). Jumlah tersebut dari tingkat konsumsi daging per kapita masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah dibandingkan dengan tingkat konsumsi daging per kapita negara berkembang lainnya. Pengembangan usaha peternakan ternak potong akan membuka pasar probiotik di masa depan. Potensi pasar usaha penggemukan ternak ternak potong di Indonesia masih terbuka luas mengingat kebutuhan daging ternak masih sangat kurang. Menurut data Asosiasi Pedagang Daging dan Feedlotter Indonesia (Apfindo), setiap tahun diimpor ternak bakalan dari Australia sekitar 300 ribu ekor dengan nilai sekitar 1,5 triliun rupiah untuk digemukan dan dipotong di Indonesia atau di ekspor kembali ke negara lain seperti Arab Saudi, Singapura, Malaysia dan Filipina.

Proyeksi potensi kebutuhan probiotik kedua jenis ternak tersebut mencapai 22.500 ton/tahun yang setara dengan $ US 73 juta. Dari jumlah tersebut, pasar yang dapat disuplai produksi probiotik lokal baru 3.327 ton per tahun.

SUPPLEMENTASI PROBIOTIK DALAM PAKAN TERNAK TERHADAP PRODUK METABOLIT DALAM DARAH TERNAK PEDAGING

Oleh :Bijanti, Retno,

E-mail ini dilindungi dari spam bots, kamu perlu mengaktifkan JavaScript utk melihatnya

Faculty of Veterinary Airlangga University

Penggunaan antibiotik sebagai bahan aditif dalam pakan ternak sudah mengalami penurunan dan bahkan di beberapa negara telah dilarang penggunaannya. Hal ini disebabkan adanya residu dari antibiotik yang terdapat dalam produk ternak seperti daging, telur, susu dan berbahaya bagi konsumen serta menyebabkan resistensi mikroorganisme patogen dalam tubuh manusia maupun pada ternaknya sendiri (Samadi, 2004). Sebagai pengganti antibiotik telah direkomendasi penggunaan probiotik yang merupakan produk berisi mikroorganisme hidup yang menguntungkan bagi hewan dan dapat meningkatkan kualitas pakan serta mampu meningkatkan kesehatan hewan. Probiotik dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ternak tanpa mengakibatkan terjadinya proses penyerapan komponen probiotik dalam tubuh ternak, sehingga tidak didapatkan residu dalam ternak yang menggunakannya. Produk probiotik yang digunakan mengandung bakteri asam laktat seperti Lactobacillus sp dan Bifidobacterium sp

Penelitian dilakukan di kandang percobaan Fakultas Kedokteran Hewan Unair dan analisis darah dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner Unair. Hewan Percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah DOC ternak pedaging/broiler jantan strain CP 707 sebanyak 20 ekor. Pakan ternak menggunakan pakan komersial jenis BR I dan BR II Comfeed. Adapun perlakuan pakan yang diberikan sebagai berikut:

PO : Pakan dengan tambahan probiotik 0% (Kontrol),

PI : Pakan dengan tambahan probiotik 0,05%,

P2 : Pakan dengan tambahan probiotik 0,1%,

P3 : Pakan dengan tambahan probiotik 0,2%.

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan program SPSS.
Hasil pemeriksaan kadar protein serum, kadar kalsium dan phosphor darah ternak masing-masing kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata (p>0,05) dengan kelompok kontrol. Sedangkan kadar total lipid serum darah ternak pedaging pada kelompok kontrol berbeda nyata dengan ketiga kelompok perlakuan (p0,05).

PROBIOTIK: PEMANFAATANNYA UNTUK PAKAN IKAN BERKUALITAS RENDAH

Abdul Mansyur dan Abdul Malik Tangko, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

ABSTRAK

Probiotik mempunyai prospek yang cerah dalam membantu memperbaiki pakan berkualitas rendah pada budidaya ikan. sehingga akan ikut meningkatkan produktivitas perikanan budidaya. Salah satu jenis probiotik yang telah dicoba adalah probiotik dengan merek dagang H-S dicampurkan ke dalam pakan dengan menggunakan hewan uji ikan bandeng dalam keramba jaring apung (KJA) di laut ukuran 1 m x 1 m x 1,2 m. Dari hasil ujicoba menunjukkan bahwa dengan konsentrasi 0,2%/kg pakan yang diberikan pada hewan uji ikan bandeng memberikan respons yang terbaik terhadap laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan, dan kecernaan pakan baik bahan kering, protein, maupun energi.

PENGGUNAAN RAMUAN HERBAL SEBAGAI FEED

ADDITIVE UNTUK MENINGKATKAN PERFORMANS BROILER

LAILY AGUSTINA, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Kampus Tamalanrea Km 10 Makassar

ABSTRAK

Penelitin ramuan herbal pada broiler untuk mengetahui efek penggunaannya sebagai feed additive terhadap performans dan menguji kemampuan daya hambat antibakteri yang dikandung dalam ramuan herbal tersebut. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap 3 (tiga) dosis ramuan herbal P0 (0 ml per liter air minum); P1 (2.5 ml per liter air minum) dan P2 (5 ml per liter air minum) dengan 5 (lima) ulangan dan setiap unit perlakuan terdiri dari 5 (lima) ekor DOC. yang dipelihara sampai umur 35 hari. Parameter performans yang diukur meliputi: konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, rasio efisiensi protein, persentase karkas dan persentase lemak abdominal. Disamping itu dilakukan uji daya hambat antibakteri terhadap 3 (tiga) jenis bakteri yaitu Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosaserta analisis kolesterol yang terkandung dalam darah ayam. Berdasarkan hasil dan pembahasan, disimpulkan bahwa ramuan herbal mengandung antibakteri, mampu menurunkan kadar kolesterol darah dan bobot badan tertinggi diperoleh pada pemberian 2.5 ml ramuan herbal per liter air minum.

PENDAHULUAN

Ramuan herbal telah sejak dahulu dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai obat maupun untuk memperbaiki metabolisme. Laporan ilmiah popular menunjukkan bahwa penggunaan berbagai bahan ramuan herbal untuk manusia juga ampuh menekan berbagai penyakit pada ternak, namun fakta ilmiah

belum banyak mengungkapkannya. Perbaikan metabolisme melalui pemberian ramuan herbal secara tidak langsung akan meningkatkan performans ternak melalui zat bioaktif yang dikandungnya. Dengan demikian ternak akan lebih sehat karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, dan menurut pengamatan peternak aroma daging dan telur ayam yang diberi jamu tidak amis dibandingkan dengan

ayam yang tidak diberi jamu (ZAINUDDIN dan WAKRADIHARDJA, 2001). Kunyit mengandung minyak atsiri yang dapat memberi efek anti mikroba dan kurkumin sebagai anti inflamasi, meningkatkan kerja organ pencernaan (HADI dan SIDIK, 1992; HADI, 1996 serta WINARTO, 2003). ROSTIANA et al. (1989) menyatakan bahwa kunyit mengandung kurkuminoid dan minyak atsiri, sedangkan menurut SIDIK (1988), aktifitas biologis kunyit berspektrum luas diantaranya antioksidan, antibakteri dan hipokolesteremik, mempunyai sifat kolagogum (peluruh empedu), sehingga dapat meningkat-kan penyerapan vitamin A, D, E dan K (SANGAT dan RUMANTYO, 1989). Kandungan minyak atsiri dalam kencur telah digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas atas (HEYNE,1991) dan berperan sebagai penambah nafsu makan (AFRIASTINI, 2004 dan HERDJOKO, 2005), belimbing wuluh dapat memperbanyak pengeluaran cairan empedu (WIJAYAKUSUMA dan DALIMARTHA, 2001). Sirih berfungsi

sebagai antiseptik, antioksidan dan fungisida, sedangkan minyak atsiri yang terkandung mampu melawan beberapa bakteri gram positif dan gram negatif (MOELJANTO dan MULYONO, 2003 serta MARWATI et al., 1995). Demikian pula dengan temulawak (HADI dan SIDIK, 1992 serta HADI, 1996), bawang putih mengandung alisin berfungsi sebagai antibiotik alami yang sanggup membasmi berbagai mikroba (SYAMSIAH dan TAJUDDIN, 2005), minyak atsirinya mengan-dung daya antiséptica (SUNDARI et al., 1992) serta menyembuhkan berbagai jenis penyakit (HERNANI dan kemangi, temu kunci, lengkuas, temu hitam bawang merah, bengkuang, sereh dan jahe merupakan ramuan herbal yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional karena mengandung berbagai zat bioaktif (SASTROAMIDJOJO, 2001).

Pada era globalisasi produk pangan yang mengandung antibiotik akan ditolak, karena adanya persyaratan harus bebas residu antibiotik dan pestisida. Disamping itu konsumen menginginkan produk ayam dengan kandungan lemak sedikit, karena adanya kecenderungan penduduk dunia semakin mengurangi konsumsi lemak untuk menghindari penyakit degeneratif seperti penyakit darah tinggi dan jantung koroner. Telah diteliti bahwa kurkumin dapat meningkatkan ekskresi asam empedu dan kolesterol (HADI dan SIDIK, 1992 serta HADI, 1996). Hasil penelitian SAENAB et al. (2006) menunjukkan pemberian jamu cenderung meningkatkan persentase karkas akibat pembentukan daging dada pada ayam yang diberi jamu lebih tinggi dari pada  perlakuan kontrol. enelitian ini dilakukan untuk menguji daya hambat antimikroba yang terkandung dalam ramuan herbal terhadap 3 (tiga) mikroorganisme yang mewakili (sebagai penelitian pendahuluan) dan mengukur jumlah kolesterol dalam darah broiler serta mengukur performans broiler yang mendapat berbagai level penggunaan ramuan herbal. Target yang ingin dicapai adalah mengetahui kemampuan daya hambat antibakteri yang terkandung dalam ramuan herbal terhadap mikroorganisme dan level optimal penggunaan ramuan herbal untuk menekan kematian tanpa memakai obat antibiotik serta menghasilkan performans yang terbaik termasuk penurunan kadar kolesterol darah.

MATERI DAN METODE

Materi dan metode penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin selama 2 (dua) bulan dari Desember 2005 sampai Februari 2006. Materi menggunakan DOC broiler sebanyak 75 ekor, terdiri dari 3 (tiga) perlakuan yaitu PO (tanpa ramuan herbal dalam air minum), P1 (2.5 ml ramuan herbal per liter air minum), P2 (5 ml ramuan herbal per liter air minum) dengan 5 (lima) ulangan dan setiap unit perlakuan terdiri dari 5 (lima) ekor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam, selanjutnya perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNT (GASPERSZ, 1991).

Prosedur pembuatan ramuan herbal Simpan dalam keadaan anaerob ditempat sejuk dan siap untuk digunakan 0.25 kg tiap bahan dicuci sampai bersih diiris tips kemudian dihaluskan (blender) Masukkan dalam jerigen 20 liter sampai penuh 1 liter molases + 1 liter EM 4 + air sumur untuk mengencerkan molases Campur homogen dan tutup rapat. Fermentasi selama 2 minggu sampai tidak terbentuk gas. Gas yang terbentuk selama proses dikeluarkan dengan membuka tutup jerigen, setelah itu ditutup rapat kembali Ramuan herbal disaring,

Parameter yang diukur adalah  kemampuan daya hambat antibakteri yang terkandung dalam ramuan herbal terhadap mikroorganisme yang diuji, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, rasio efisiensi protein persentase karkas, kadar lemak abdominal dan kadar kolesterol darah serta mortalitas. Komposisi pakan terdiri dari jagung kuning, bungkil kedele, tepung ikan, tepung tulang, minyak kelapa, CaCO3, mineral BR dan garam, dengan kadar protein 22.54% dan energi metabolis 3002 Kkal per kg pakan. Bahan ramuan herbal yang digunakan terdiri dari: kencur, temu kunci, lengkuas, jahe,

kunyit, bawang merah, bawang putih, bengkuang, daun sirih, sereh, belimbing wuluh, kemangi, temulawak dan temu hitam, masing –masing terdiri dari 0.25 kg, molasses 1 liter, EM-4 1 liter dan air sumur sampai seluruhnya berjumlah 1 (satu) jerigen berkapasitas 20 liter. Semua bahan difermentasi secara anaerob sampai tidak terbentuk lagi gas dan kemudian disaring, selanjutnya disimpan dalam keadaan anaerob.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh penggunaan ramuan herbalterhadap 3 (tiga) strain bakteri yaitu Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonasaeruginosa menunjukkan bahwa ketiga bakteri dapat dihambat oleh antibakteri yang terkandung dalam ramuan herbal yang diuji. Hasil uji daya hambat antibakteri dalam ramuan herbal terhadap bakteri Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa tertera pada

Tabel 1. Uji daya hambat antibakteri dalam ramuan herbal terhadap bakteri Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa (mm)*

Strain Bakteri

Volume Bahan

Daya Hambat (mm)

(ul)

I

II

Staphylococcus aureus

20

12

12

10

7

7

Escherichia coli

20

11

11

10

8

8

Pseudomonas aeruginosa

20

8

8

10

*BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROPINSI SULAWESI SELATAN (2006)

Volume bahan ramuan herbal yang lebih banyak (20 ul) memiliki daya hambat lebih kuat dari pada volume yang lebih rendah (10 ul), akan tetapi untuk Pseudomonas aeruginosa dengan volume 10 ul bahan, antibakteri yang terkandung dalam ramuan herbal tidak mampu menghambat pertumbuhannya. Daya hambat antibakteri pada volume bahan 20 ul dari yang terkuat berturut-turut adalah Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Ketiga strain bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada ternak unggas, seperti tertera pada A handbook of DIAGNOSIS and THERAPY for the VETERINARIAN (1979), bahwa Staphylococcus dan Escherichia coli dapat menyebabkan infeksi pada kantong telur dan Escherichia coli juga menyebabkan pericarditis, infeksi saluran pernafasan, peritonitis dan salpingitis. Pseudomonas aeruginosa dapat menyebabkan penyakit sekunder pada hewan yang sakit dan menimbulkan penyakit pada hewan yang mengalami stress. Semakin banyak volume bahan yang digunakan dalam pengujian, maka antibakteri yang terkandung juga semakin tinggi. Adanya zat kurkumin bersifat antibakteri dalam temulawak menyebabkan adanya daya hambat antibakteri yang cukup kuat dalam ramuan herbal (WINARTO, 2003 dan MAHENDRA, 2005); dan dapat digunakan sebagai obat antibakteri pada saluran pencernaan, sedangkan minyak atsiri bersifat antibakteri (HADI, 1996), demkian pula adanya berbagai kombinasi ramuan herbal seperti sirih (MOELJANTO dan MULYONO, 2003); bawang  putih (SYAMSIAH dan TAJUDIN, 2005); bawang merah (RAHAYU dan BERLIAN, 2004); sereh (SARWONO, 2002); kunyit berfungsi mematikan kuman mengandung komponen kurkuminoid yang mempunyai efek antibakteri cukup kuat terhadap bakteri gram positif dan gram negatif serta kencur mengandung antibakteri (ANONIM, 2005 dan MAHENDRA, 2005).

Jadi berdasarkan hasil pengujian daya hambat antimikroba dalam ramuan herbal yang diteliti dapat direkomendasikan sebagai feed additive untuk ternak broiler. Perlakuan pemberian ramuan herbal tidak

memberi pengaruh yang nyata pada konsumsi pakan, konversi pakan, rasio efisiensi protein, persentase karkas dan persentase lemak abdominal (Tabel 2). Namun ditinjau dari aspek biologis konsumsi pakan dan rasio efisiensi protein serta konversi pakan terbaik pada perlakuan 2.5 ml per liter air minum. Diduga zat bioaktif dalam ramuan herbal yang sangat tepat dosisnya dalam kombinasi ramuan dan adanya efek dari kombinasi bahan yang bersifat saling melengkapi (sparing effect), berefek positif terhadap beberapa parameter performans.

Tabel 2.

Rataan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, rasio efisiensi protein, persentase bobot karkas dan persentase lemak abdominal broiler dengan pemberian ramuan herbal, perekor selama penelitian

Parameter

Perlakuan

P0

P1

P2

Konsumsi Pakan (gr/ekor/minggu)

419.0

415.5

44.5

Pertambahan Bobot badan (gr/ekor/minggu)

256.0a

278.8b

254.2a

Konversi pakan

1.63

1.49

1.59

Rasio efisiensi protein

2.71

2.93

2.78

Persentasi karkas (%)

69.1

67.1

68.3

Lemak abdominal (%)

2.1

2.6

2.6

Total kolesterol (mg per dl)*

140

125

111

Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P <0,05)

Sumber: *BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROPINSI SULAWESI SELATAN (2006)

Pertambahan bobot badan tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 (P <0,05), hal ini dapat disebabkan karena selain mengandung antibiotik, ramuan herbal juga mengandung minyak atsiri dan kurkumin yang berperan meningkatkan kerja organ pencernaan, merangsang dinding empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase dan protease untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan karbohidrat, lemak dan protein (WINARTO, 2003 dan SASTROAMIDJOJO, 2001). Antibakteri akan dapat melisiskan racun yang menempel pada dinding usus, sehingga penyerapan zat nutrisi menjadi lebih baik, sebagaimana mekanisme kerja antibiotik sebagai growth promotant.

Total kolesterol darah menurun seiring dengan meningkatnya pemberian dosis ramuan herbal dalam air minum P0 (140 mg per dl), P1 (125 mg per dl) dan P2 (111 mg per dl). Kunyit dan temulawak mempunyai aktivitas kolagoga (AFIFAH, 2003). Meningkatnya produksi dan sekresi empedu, bila masuk kedalam duodenum dan banyak ekskresi asam empedu, maka kolesterol keluar bersama feses, menyebabkan kolesterol darah dan tubuh menurun karena kolesterol merupakan salah satu bahan baku empedu. WIDODO (2002) menyatakan bahwa dalam ramuan herbal khususnya temulawak dapat memetabolisir lemak tubuh, demikian pula HADI dan SIDIK (1992) serta SANGAT dan RUMANTYO (1989)

menyatakan bahwa temulawak dan kunyit dapat menurunkan kadar kolesterol, juga bersifat hipokolesteremik (ROSTIANA et al., 1989), hal ini diperkuat oleh ATMOMARSONO dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, bahwa terjadi penurunan lemak karkas dan lemak abdominal, kolesterol darah, kolesterol daging dada dan kolesterol daging paha dibanding dengan ayam yang tanpa menggunakan ransum tepung kunyit (ANONIM, 2004). Jumlah kematian pada perlakuan PO sebanyak 2 ekor dan pada perlakuan P1 dan P2 tidak terdapat kematian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan ramuan herbal akan meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung zat bioaktif, dan salah satu bahan (temulawak dan temu ireng) dalam ramuan herbal yang digunakan, diduga mengandung zat yang dapat memperbaiki kerja system hormonal khususnya metabolisme karbohidrat dan memetabolisir lemak dalam tubuh (WIDODO, 2002), disamping itu kandungan antibiotik yang dikandung oleh ramuan herbal meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah pertumbuhan parasit seperti cacing gelang dan kremi.

Hasil uji serologi BALAI SEROLOGI WATES YOKYAKARTA pada awal Agustus 2005 menunjukkan bahwa jamu mengandung senyawa yang dapat melemahkan virus flu burung sehingga terbentuk antibody (SINAR HARAPAN, 29 Agustus 2005). Demikian pula data emperis pada peternakan kemitraan di Maros yang dilakukan pada tahun 2005, menunjukkan bahwa ayam yang diberi ramuan herbal dari penelitian, ini dapat ditekan jumlah kematiannya dibanding dengan yang tidak diberi ramuan herbal. Disamping itu

penggunaan obat antibiotik tidak lagi diberikan kecuali vitamin (DATA PRIBADI PS MARANNU, 2005)

KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa: Ramuan herbal mengandung antibakteri yang dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan menekan jumlah kematian broiler. Penggunaan ramuan herbal pada level 2.5 ml per liter air minum dapat memberi pengaruh terbaik terhadap pertambahan bobot badan. Ditinjau dari aspek biologis, level ramuan herbal sebanyak 2.5 ml per liter air minum cenderung memperbaiki konsumsi pakan, konversi pakan maupun rasio efisiensi protein.

SARAN

Perlu penelitian lebih mendalam mengenai kemampuan daya hambat ramuan herbal terhadap jenis mikroba penyebab penyakit pada unggas terutama dalam menanggulangi penyebaran penyakit flu burung.

%d bloggers like this: